Senin, 03 Desember 2012

Pengaruh Kebudayaan Terhadap Pembelian dan Konsumen

Kebudayaan yaitu sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Kebudayaan sudah ada sejak dulu dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya mengkompromikan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang secara terus-menerus dalam sebuah lingkungan. Budaya merupakan sesuatu yang bersifat memaksa, pengaruhnya pun terhadap pembelian dan konsumsi konsumen sangat besar. 
Budaya tercipta juga karena kebiasaan manusia yang mereka lakukan dengan terus menerus, hal itu juga terus dilakukan dan diturunkan kepada generasi-generasi sesudah mereka. Walaupun budaya yang dilakukan pada masa sekarang mungkin sudah jauh berbeda dengan masa dahulu, hal itu di karenakan budaya budaya saat ini telah tergerus oleh pergeseran zaman yang semakin kuat dampaknya,
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen. Pengiklan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang.
Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya. Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis : kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar seringkali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Budaya juga memberikan peraturan dan standar mengenai kapan waktu kita makan, dan apa yang harus dimakan tiap waktu seseorang pada waktu makan. Contoh terhadap Konsumsi yang berpengaruh dari budaya adalah kebiasaan mengkonsumsi Nasi sebagai makanan pokok, memakan Nasi sebagai makanan pokok merupakan kebiasaan yang akhirnya membudaya sehingga dapat mempengaruhi terhadap pembelian Beras.

PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL

Dituliskan oleh : Amirul mukminin

Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus (masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi, awal tahun 2002 akibat perkelahian didalam kampus). Atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan sang pejabat.

Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang - menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat perilaku para pejabat kita?

Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga kapan krisis multidimensi inI akan berakhir belum ada tanda-tandanya.

PERLU PENDIDIKAN YANG BERMORAL
Kita dan saya sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama.

Pertama, melalui pendidikan nasional yang bermoral (saya tidak ingin mengatakan bahwa pendidikan kita saat ini tidak bermoral, namun kenyataanya demikian di masyarakat). Lalu apa hubungannya Pendidikan Nasional dan Nasib Generasi Penerus? Hubungannya sangat erat. Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan sumber daya manusia tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang telah pendidikan sumbangankan untuk kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Apa yang telah terjadi pada Bangsa Indonesia saat ini adalah sebagai sumbangan pendidikan nasional kita selama ini.

Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini. Pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di legislative, ekskutif dan yudikatif semuanya orang-orang yang berpendidikan bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. Contoh lainnya, dalam bidang politik lebih parah lagi, ada partai kembar , anggota dewan terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh partai karena memperebutkan posisi tertentu (Bagaimana mau memperjuangkan aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja belum kompak).

Dan masih ingatkah ketika terjadi jual beli kata-kata umpatan ("bangsat") dalam sidang kasus Bulog yang dilakukan oleh orang-orang yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini yang kita andalkan untuk membawa bangsa ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda saat ini dimasa yang akan datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang sangat parah seperti penjualan gelar akademik dari S1 sampai S3 bahkan professor (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang pendidikan), kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk sekolah favorit, menjiplak skripsi atau tesis, nyuap untuk jadi pegawai negeri atau nyuap untuk naik pangkat sehingga ada kenaikan pangkat ala Naga Bonar.

Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya (untungsnya, NEM sudah tidak dipakai lagi, entah apalagi cara mereka), kalau perlu didongkrak supaya bisa masuk sekolah-sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.

Kembali ke pendidikan nasional yang bermoral (yang saya maksud adalah pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD sampai PT yang bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa membawa peserta didik kearah kedewasaan, kemandirian dan bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berahklak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.

Sejarah Benteng Portugis

Ditulis Oleh  : Nofly Manopo

Begitu banyak potensi wisata di Kabupaten Minahasa Selatan Salah satunya yaitu Benteng Portugis yang terletak di jantung kota Amurang, ibu kota kabupaten Minahasa Selatan. budaya Benteng Portugis yang terletak di Kelurahan Uwuran Satu, Kecamatan Amurang, tepatnya di lokasi Pasar Amurang yang berbelakangan dengan Rumah Tahanan (Rutan) Amurang atau yang lebih dikenal dengan sapaan sindulang. tapi apa mau dikata hingga saat ini, yang tersisa dari bekas benteng besar tersebut hanya beberapa bagiannya saja. Bangunan ini diperkirakan telah berusia 198 tahun sejak tahun 1512, Menurut sejarah, bangsa Portugislah yang pertama mendarat dan membangun benteng tersebut di mulut Teluk Amurang itu, dan kemudian menyusul bangsa Spanyol mendarat di perairan Mobongo / Kawangkoan Bawah, Kecamatan Amurang Barat, serta membangun benteng yang dinamai 'New Spain'. Namun, dari kedua benteng tersebut yang tersisa hanyalah benteng Portugis di Sindulang.  Dulunya di dalam benteng yang dipersenjatai dengan meriam-meriam terutama yang menghadap ke perairan Teluk Amurang untuk menangkis serangan lawan itu, dan terdapat pula berbagai bangunan, barak, gudang dan fasilitas militer lainnya, termasuk sebuah kapel (gereja kecil). Kapel tersebut diperkirakan  berada di lokasi yang mana berdiri sebuah gereja GMIM Sentrum Syalom Amurang, dan berada tepat di bawah altar gedung gereja GMIM Sentrum. Menyusul ada pula bekas kapel di Benteng New Spain di Mobongo. Selain untuk pertahanan dan kediaman serdadu, di dalam Benteng Spanyol ini juga berada kapel yang kini telah ditempati gedung gereja GMIM Kawangkoan Bawah. Malahan di dekatnya berada pula bekas pekuburan Spanyol, dan di depan pintu pastori gereja GMIM Kawangkoan Bawah masih terdapat nisan kubur orang Spanyol. Hingga sampai saat ini masih banyak masyarakat meyakini bahwa didalam benteng tersebut banyak tersimpan sejarah-sejarah kuno, mata uang kuno bahkan emas, percaya atau tidak pintu baja menuju ruang bawah tanah yang diperkirakan menyimpan harta karun di bagian tengahnya serta jalan-jalan ke ruang-ruang lain yang telah tertimbuh reruntuhan dan tanah, sampai saat ini masih tergembok. Upaya demi upaya dari berbagai pihak untuk 'membuka', gembok tersebut namun tidak ada hasilnya “gagal”.  Hingga sampai sebuah tim dari negeri belanda beberapa tahun silam untuk mencoba membukanya, tetapi karena status benteng sebagai cagar budaya tentu saja tidak membuahkan hasil, Menurut seorang sejarawan, jalan-jalan bawah tanah Benteng Portugis ini menembus ke kompleks gereja Sentrum. Tapi pintunya sudah tertutup. Sedangkan dinding-dinding beton Benteng Portugis termasuk Benteng Spanyol telah dibongkar di masa Gubernur Jenderal Herman Daendels (1807 - 1815). Dindingnya dimanfaatkan untuk pembangunann jalan di Amurang, dan pembongkaran paling akhir terjadi pada masa pemerintahan Jepang. (fly)